Senin, 18 Juli 2011

Career Planning

Pekerjaan adalah hal yang penting dan merupakan bagian dari hasrat dalam hidup manusia. Pekerjaan sudah berperan lebih jauh dari sekedar untuk menyediakan makanan, tempat perlindungan dan hal-hal lain yang mendasar untuk hidup. Pekerjaan memberikan manusia sebuah makna dari tujuan, tantangan, pemenuhan dan perkembangan diri (Baruch, 2004).

Sarjana sebagai calon tenaga kerja baru akan memasuki tahapan berikutnya setelah menyelesaikan kuliah, salah satunya adalah bekerja. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan di Indonesia masih belum mampu menampung seluruh lulusan perguruan tinggi atau para calon tenaga kerja baru. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2009 menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terbuka (orang yang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja) pada jenjang pendidikan sarjana sebanyak 626.621 orang dan diploma sebanyak 486.339 orang (www.bps.go.id diunduh tanggal 6 April 2010).

Selain itu, Wuthnow (2003) menambahkan bahwa hal yang lebih diharapkan saat ini dari karir adalah arti dan fungsinya sebagai perpanjangan dari sebuah identitas diri, bukan semata-mata hanya sebagai keamanan finansial (Resse & Miller, 2006). Selain itu, karir juga dapat diartikan sebagai perjalanan pekerjaan dari seorang individu.

Gambaran di atas memperlihatkan bahwa permasalahan karir tidak hanya persoalan bagaimana mendapatkan pekerjaan tetapi bagaimana mendapatkan karir yang tepat dan sesuai dengan diri sendiri. Keadaan tersebut membuat permasalahan pencarian kerja menjadi semakin kompleks sehingga dibutuhkan suatu usaha yang lebih besar untuk dapat menghadapi kondisi ini.

Oleh karena itu penting untuk memiliki perencanaan karir. Perencanaan karir adalah sebuah proses yang bertahap. Jaffe dan Scott (1991) menyebutkan ada lima tahap dalam perencanaan karir, yaitu:

Tahap 1: penilaian terhadap diri sendiri
Pada tahap ini individu akan mengeksplorasi impian-impiannya, tujuan, minat, keahlian, nilai-nilai, kekuatan dan kelemahan. Fokusnya adalah bagaimana keadaan diri sekarang dan mau menjadi apa.

Tahap 2: mengeksplorasi berbagai kemungkinan
Pada tahap ini individu perlu memperhatikan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada karirnya dan berusaha mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan tersebut, terutama yang menjadi tujuan utamanya.

Tahap 3: menyusun rencana karir
Pada tahap ini individu menyaring segala hal yang telah dipelajari tentang dirinya sendiri dan tentang lingkungan karirnya, lalu menyusun rencana karir. Dalam menyusun rencana karir, individu perlu melihat kembali keinginannya, tujuan karirnya, berbagai kemungkinan yang ada dan beberapa target spesifik. Secara konkrit individu menetapkan tujuan dan memilih beberapa kegiatan yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut.

Tahap 4: melakukan tindakan
Rencana yang telah dibuat harus direalisasikan agar menjadi kenyataan. Kuncinya adalah menemukan aktivitas setiap hari yang mendukung tujuan, membagi rencana menjadi aktivitas mingguan dan tetap melihat kemungkinan baru.

Tahap 5: mengevaluasi hasil
Setelah mengimplementasikan tahapan-tahapan di atas, maka langkah selanjutnya adalah mempertanyakan pada diri sendiri mengenai perasaan yang dirasakan, melihat pilihan-pilihan, dan tindakan yang telah dilakukan.

Dengan meningkatkan perencanaan karir, seseorang akan semakin mengetahui tentang dirinya sehingga dapat memiliki perencanaan untuk karirnya. Hal tersebut akan meningkatkan keyakinan dirinya terutama dalam hal mencari kerja dengan sukses sesuai dengan tujuan dan cita-citanya.

SUMBER: PROGRAM PERENCANAAN KARIR UNTUK MENINGKATKAN CAREER SEARCH SELF EFFICACY
oleh:
Medianta Tarigan (UPI Bandung)
Supra Wimbarti (UGM Jogja)u

Your career awaits you...

Simply click http://binakarir.com

it free forever...


View the original article here

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar